Opini
Beranda » Berita » Usai Lebaran, Ini Cara Atasi Mood Liburan

Usai Lebaran, Ini Cara Atasi Mood Liburan

Oleh: Tim Liputan


Nah, bagaimana caranya sekolah bisa “menjinakkan” anak didik yang masih asyik dengan euforia Lebaran? SD Muhammsyah Full Day Sarilamak di Kabupaten Lima Puluh Kota punya resep jitu. Mereka tidak langsung memaksa anak-anak berpacu dengan rumus dan pelajaran, tapi menyambut mereka dengan cara yang bikin semangat.

Kepala Sekolah Nurmis Madiati, MT, Atau sering di panggil dengan sebutan “Bunda” membagikan strategi mereka. Menurutnya, masa transisi itu sangat penting. Sekolah ini sudah mempersiapkan kegiatan khusus sejak H-1.

“Kami minta anak-anak datang di hari pertama dengan pakaian yang mereka sukai, asal sopan, rapi, dan islami. Mereka juga diminta membawa makanan favorit untuk berbagi dengan teman. Bayangkan, di gerbang sudah ada guru menyambut, lalu upacara pagi dan tausyiah Syawal. Mereka saling bertukar makanan, termasuk dengan guru. Itu bikin suasana hangat langsung terasa,” ujarnya.

Seni Hidup Ikhlas: Merangkul Takdir dengan Hati yang Lapang

Tapi, sambutan hangat saja belum cukup. Strategi jitu lainnya adalah memberikan reward (penghargaan) untuk memicu semangat. Bukan cuma nilai, tapi apresiasi atas usaha mereka selama Ramadhan dan di hari pertama sekolah.

“Kami data anak kelas 1 sampai 3 yang puasa penuh, mereka dapat reward. Untuk kelas tinggi, yang berhasil menamatkan Al-Qur’an dan menambah hafalan, juga kami apresiasi. Di hari pertama, kami kasih reward untuk 10 anak tercepat yang datang. Ini jadi momen yang paling dinantikan anak-anak,” tambahnya.

Tantangan terbesar bagi guru di awal masuk pasca liburan, diakui Nurmis, adalah kebiasaan rumah yang masih terbawa pasca liburan. Anak-anak mungkin masih sulit fokus. Karena itu, para guru di sekolahnya sudah bersiap dengan strategi kolektif.

“Sehari sebelum masuk, seluruh majelis guru dan tendik (tenaga kependidikan) berkumpul, mengkaji kemungkinan yang akan terjadi, dan mencari solusi bersama. Kami siapkan ice breaking, game interaktif, dan pendekatan deep learning untuk menyelami hati setiap anak. Jadi, guru-guru bisa membaca suasana hati murid-muridnya,” jelasnya.

Lebaran juga identik dengan saling memaafkan. Momen ini dimanfaatkan betul untuk memperkuat pendidikan karakter. Di sekolah ini, budaya bersalaman dan saling memaafkan bukan hal baru. Itu sudah dilakukan setiap pagi saat masuk dan pulang sekolah.

Mengulas Perang Uhud: Peristiwa Penting di Bulan Syawal

“Di Syawal ini, kami kumandangkan gema takbiran sambil bersalaman dan mengucap Taqabbalallahu minna wa mingkum. Suasananya syahdu, sampai ada yang meneteskan air mata. Kami punya moto, ‘Sekolahku adalah surga kedua bagiku’. Saking kerasanya, ada anak yang sampai tidak mau pulang walau sudah dijemput orang tuanya,” kenang Bunda Nurmis.

Untuk para orang tua di rumah, Bunda Nurmis punya pesan agar tak kaget dengan transisi ini. Sekolah telah memiliki grup WhatsApp untuk setiap kelas sebagai alat komunikasi.

“Semua program sudah kami sampaikan ke orang tua. Kami tinggal mengingatkan: ‘Ayah Bunda, sebentar lagi anak kita masuk sekolah. Mari sama-sama kita siapkan bahwa sekolah adalah tangga menuju kesuksesan masa depan’. Kami ajak orang tua untuk memotivasi anak bahwa proses tidak akan mendustai hasil,” pesannya.

Terakhir, kepada para siswa, ia berpesan dengan bahasa yang sederhana.

“Liburan boleh santai, tapi sekarang kembali ke rutinitas belajar. Kurangi main gawai, atur waktu tidur sesuai dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Mari terapkan kembali budaya sekolah kami: CERIA – Cerdas, Energik, Ramah, Inovatif, dan Amanah. Jangan lupa senyum, sapa teman, hormati guru,” katanya.

Dari Hangatnya Kampung ke Kerasnya Rantau: Siapkah Kamu?

Ia menambahkan, target awal tidak perlu langsung sempurna. Cukup mulai dari hal kecil: lebih rajin mengerjakan tugas, lebih fokus di kelas, dan lebih disiplin waktu.

“Kalau ada salah dengan teman atau guru, ini waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan. Kita semua punya mimpi besar. Semangat hari ini adalah langkah kecil menuju masa depan yang gemilang,” pungkas Bunda Nurmis.

Praktisi pendidikan yang juga berperan besar dalam memajukan banyak sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Lima Puluh Kota ini membuktikan, mengembalikan semangat belajar tak harus dengan wajah tegang. Tapi dengan pendekatan yang hangat, penuh penghargaan, dan tentu saja… menyenangkan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement